Rabu, 31 Agustus 2016

MyWapBlog Eighth Anniversary Contest 2016 : Menunggu Kaos Impian

Aku bukanlah orang yang pandai menulis, bukan pula orang yang berkeinginan menjadi penulis. Entah bagaimana semua ini bisa terjadi, yang jelas saat itu aku benar benar suka sekali menulis, setiap hari, bahkan aku sering lupa makan gara gara terlalu semangat menulis. Sekarang kenyataan membawaku pada tempat yang begitu indah dan jauh lebih baik, hal yang tak pernah aku impikan sebelumnya.

......

@Silvi

Sudah hampir 2 juta followers, seperti inikah rasanya menjadi orang terkenal? Belum lagi akun instagram dan fanspage yang aku kelola, Setiap hari aku selalu dibanjiri kiriman dari banyak orang.

"..kak, novelnya bagus banget, ditunggu novel berikutnya "

"tulisan kakak bagus bagus, saya suka "

"Kak silvi penulis yang hebat ! "

dan masih banyak lagi. Aku tidak menganggap itu sebagai pujian, hanya sebatas kalimat kalimat penyemangat agar aku terus menulis.

.....

31 agustus 2016.

"Kriiiingg !!"

Bunyi alarm jam bekerku membuatku harus bangun lebih pagi. 04.30 AM. Ya, aku tidak ingin telat karena hari ini aku harus mengisi sebuah acara seminar di salah satu universitas di kota Semarang. Bukan hal tabu bagiku, semenjak peluncuran novel ke-3ku yang bisa dibilang cukup sukses itu, aku mulai sering diundang dalam acara seperti ini. Oh iya, karya tulisku seperti puisi dan cerpen juga sudah banyak dimuat di majalah nasional. Beberapa buku juga berhasil aku terbitkan, dan kalian tahu? minggu depan akan menjadi hari peluncuran novel ke-12ku.

"Loh, pagi pagi udah rapi?" celetuk ibu.

"He he, iya buk, hari ini Silvi ada acara seminar lagi " jawabku.

Pukul 05.00 pagi, setelah semuanya siap, aku berpamitan pada ibuku dan segera berangkat. Satu hal yang tak pernah kulupakan, meminta doa dari orang tua untuk kesuksesanku.

###

"Ya, kita telah kedatangan salah satu penulis hebat di tanah air kita, beliau sudah tidak asing lagi di telinga kita, langsung saja kita sambut Silvi Nayla." pembimbing acara mempersilahkanku.

"Prok prok prok .. !"
Seketika suasana yang tenang tergantikan oleh riuhnya tepuk tangan para peserta seminar.

"Hai, apa kabar?" sapaku pada mereka seraya memijakkan langkah terakhirku di hadapan mereka.

"Baik..." semua menjawab dengan penuh semangat, terlihat jelas dari cara mereka menatapku. Kuberikan senyum terindah, berharap semua akan berjalan dengan baik.

Kurang lebih 15 menit aku berbicara di hadapan mereka. Semuanya tampak serius mendengarkan apa yang aku sampaikan, tak terkecuali... "Dia !! Astaga, baju itu?" batinku.

Aku terkejut seketika melihat salah satu peserta seminar mengenakan baju biru bertuliskan MyWapBlog.com. Ya, baju yang dulu gagal kudapatkan, baju yang dulu selalu kuimpikan. Aku terdiam sejenak, pikiranku berlari jauh ke arah masa lalu. MyWapBlog.com, tempat di mana aku mulai dan belajar tentang menulis. Tempat di mana aku mendapat banyak ilmu tentang kepenulisan. Entah, Semenjak karya tulisku dimuat di beberapa majalah dan beberapa media massa, aku mulai meninggalkan MyWapBlog.com. Sungguh keterlaluan.

Kurang lebih tiga tahun aku tidak pernah lagi mengakses MyWapBlog.com, Yang kuingat saat ini, dulu aku pernah beberapa kali gagal mendapatkan kaos biru bertuliskan MyWapBlog.com itu.

.......

Tak terasa 2 jam telah berlalu, senyum manis menjadi caraku menutup seminar kali ini.

###


"Hah, melelahkan" keluhku sembari merebahkan tubuh di atas ranjang.
Tiba tiba aku teringat baju tadi. Kubuka browser di smartphoneku dan segera mengakses mywapblog.com,

Hanya dalam waktu kurang dari 3 detik aku sudah dibawa menuju halaman login mywapblog.com

"Ah, sial. Aku lupa kata sandinya" batinku.

Beberapa kata telah kucoba namun hasilnya nihil. Keadaan diperparah ketika aku menyadari bahwa aku juga lupa password email yang aku gunakan di mywapblog.com.

"Laptop !" seketika aku teringat dulu pernah menyimpan data penting di laptopku. Semoga saja aku menemukan password mywapblogku di sana.

Rasa cemas sempat menyelimuti pikiranku, khawatir tidak dapat menemukan apa yang kucari, hingga akhirnya senyum kembali terukir di wajahku.

"Yes, akhirnya..." batinku. Aku berhasil login.

Tiga tahun lebih, itu bukan waktu yang sebentar. Sekarang MyWapBlog benar benar sudah mengalami banyak perkembangan luar biasa. Tapi bukan itu, yang membuatku terkejut adalah saat kudapati sebuah notifikasi lomba menulis cerpen dalam rangka perayaan hari ulang tahun MyWapBlog.com yang ke delapan dan.. Kaos itu, aku benar benar masih sangat menginginkanya sama seperti dulu. Aku harus ikut.

###

Kubaca dan kupahami semua peraturan kontes yang ada. Aku sempat keberatan seketika mengetahui bahwa ini adalah hari terakhir pengiriman cerpen ke Official Event MyWapBlog.com . Hanya tersisa beberapa jam, aku benar benar tidak punya banyak waktu.

###

"Menunggu Kaos Impian". Sebuah judul untuk cerpenku kali ini, dan "I Love MyWapBlog.com" sebuah banner sederhana yang baru saja kubuat. Aku berhasil mengikutsertakan cerpenku dalam rangka perayaan hari ulang tahun MyWapBlog.com yang ke-8. Aku sama sekali tidak berharap terpilih menjadi yang terbaik, tapi apa salahnya jika aku berharap bisa mendapatkan kaos biru bertuliskan MyWapBlog.com itu? Aku akan menunggu. Ya, semoga saja..



Selamat ulang tahun yang ke-8, MyWapBlog.com, semoga lebih baik. :-)

Sabtu, 04 Juni 2016

Cerpen Cinta | Menatap Dua Senja

Sebelumnya maap kalu cerpennya agak berantakan. Semoga masih bisa dipahami.

Menatap Dua Senja

Kalian tahu senja kan?? Kumpulan bait bait indah berwarna jingga yang melekat di permukaan langit barat saat menjelang malam tiba. Jika beruntung, kalian bisa menjumpainya setiap sore. Ingat, hanya setiap sore..

###

Dulu aku pikir aku laki laki paling beruntung di dunia karena aku dapat melihat senja kapanpun, bukan hanya saat sore tiba, namun saat mentari sejajar di atas kepala atau saat bintang memancarkan sinarnya aku dapat melihat senja dengan jelas dan bahkan menyentuhnya..

"Tit tit tit..."
Tiba tiba ponselku berdering, membuyarkan lamunanku. Segera kuangkat telpon yang sebenarnya sudah ketiga kalinya berdering, belum sempat kujawab ternyata panggilan sudah dimatikan. Kulihat pada status bar ada satu pesan masuk dari nomor yang sama, mungkin tadi dia sengaja miscall supaya aku membaca dan segera membalas pesannya, pikirku.

Pesan nasi kotak 2, tolong diantarkan kerumah saya dijalan mawar no. 2, no. Rumah 123 sebelum jam 7.30. Terima kasih.


Ya, bisa dibilang saya sedang menjalani bisnis usaha kecil kecilan di warung nasi kotak yang sebenarnya milik orang tuaku ini. Semenjak aku lulus sma, aku memutuskan menunda keinginan kuliahku dan memilih menjalani usaha ini. Tadinya kedua orang tuaku tidak setuju, namun berbagai alasan kulontarkan hingga sekarang aku ada di sini.

Pukul 07:10 WIB "nasi pesanan siap diantar...." Gumamku dengan semangat karena ini adalah pesanan pertama untuk hari ini.

Selain melayani pembelian secara langsung, kami juga membuka layanan sms dan telepon untuk pemesanan. Kalian bisa menghubungi nomor yang tertulis di depan warung jika ingin memesan, tapi ingat tidak melayani jarak yang terlalu jauh ya.

Jalan mawar no.2, karena cukup dekat, kuputuskan menggunakan sepeda, dengan ayunan sedang aku bergegas mengantarkan nasi tersebut ke alamat tadi.
Kurang dari 10 menit aku sudah sampai di depan rumah yang kumaksud. Aku terhenti sejenak seketika melihat dua orang gadis saling berhadapan, seperti sedang membicarakan sesuatu namun dengan bahasa tubuh (isyarat). Tanpa izin aku melangkah masuk melewati gerbang hingga aku tepat di hadapan mereka. Aku sempat bingung karena tak tau apa yang harus kukatakan, maksudnya tau apa yang harus kukatakan tapi tak tau bagaimana cara menyampaikannya.

Kuarahkan jari telunjuk kananku pada mereka kemudian mengarahkannya pada nasi yang kubawa . (apa kalian yang memesan ini?) tanyaku.

Salah satu menganggukkan kepalanya yang artinya benar, lalu menggerakan ibu jari dan jari telunjukknya bergesekkan, isyarat yang tak asing bagiku bahwa ia menanyakan harga. Dengan senyuman termanisku kubuka kedua telapak tanganku lebar lebar kemudian mengarahkan padanya yang artinya sepuluh ribu. Setelah menerima uang aku menundukan kepala sebagai ucapan terimakasih karena sudah memesan nasi dari kami dan langsung bergegas kembali ke warung untuk berjualan.

Warung kami buka sampai jam 11 siang saja, sedangkan jika ada yang memesan diluar jam tadi biasanya kami baru akan memasak lagi sebelum diantar.

Hari berganti malam, aku sempat teringat pada kejadian pagi tadi, salah satu wajah mereka tiba tiba menghiasi pikiranku. Segera kutepis bayangnya sebelum aku terlampau jauh memikirkannya dan segera tidur..

###

"Tit tit tit..."
Ponselku kembali berdering, 1 pesan masuk dari nomor yang kemarin. Gadis itu, ya aku masih ingat 3 angka terakhirnya dan isi pesannya pun sama, hanya saja bukan dua, tapi satu nasi kotak. Segera kusiapkan. Aku sengaja membawa buku dan pulpen agar aku bisa lebih mudah bicara dengannya. Ssst.. Aku ingin menayakan namanya..

Tampak gadis itu sedang duduk di beranda rumah menungguku, eh maksudnya nasi yang kubawa..

"ini pesananmu" tulisku pada selembar kertas halaman paling awal dan menyodorkan ke arahnya.

"berapa?" tulisnya sangat cepat.

"ahahah, ternyata seru jugak, seperti sedang chatting sama seseorang" umpatku.

"gratisss" tulisku dengan tiga hurus S untuk meyakinkan gadis itu bahwa aku tidak bercanda.

"gratis? Aku tidak mau, aku punya uang. Jadi berapa uang yang harus kubayar?"

"Ahahah, ekspresi wajahnya sangat lucu" umpatku lagi.

"maksudku kau tak perlu membayar dengan uang" tulisku pada lembar berikutnya karena buku itu memang kecil.

"lalu dengan apa?"

"siapa namamu?" tanyaku.

"Senja Pitaloka, panggil saja Senja" tulisnya agak besar, membuatku harus pindah lagi ke halaman berikutnya.

"ok, thanks, nasi kotak ini gratis untukmu. Selamat menikmati. " Hanya kutunjukan padanya tanpa memberikan buku itu agar dia tidak perlu membalas lagi.

Setelah mendapatkan namanya, aku segera kembali ke warung sebelum ada pembeli yang datang. Dan gadis itu, sepertinya dia juga sedang terburu buru, nasi yang dipesannya dimasukkan ke dalam tas, ia segera mengambil sepeda yang sudah ada di halaman rumahnya sejak tadi..

###

Seperti biasa, menjelang sore tiba aku bersepeda ke pantai yang tak jauh dari rumahku untuk menatap senja. Ya, aku suka sekali melakukan hal ini, ketenangan dan kedamaian akan mengurungku di sini.

"senja, eh.." gumamku.

Tiba tiba aku teringat dengan gadis tadi, Senja.

Oh iya, aku lupa memberitahu namaku, Muhammad Fajar Irawan, panggil saja fajar. Ya, mungkin karena namaku fajar yang membuatku suka menatap senja, karena tuhan menciptakan sesuatu berpasang pasang, pikirku senja adalah pasanganku. Hahah, bercanda, aku menyukai senja karena wujudnya yang indah dan mampu menghadirkan kedamaian.


Dan.. Entah bagaimana, yang jelas aku benar benar tidak mengenal gadis itu sebelumnya. Tapi harus kuakui dia memang cantik dan manis. Dan yang paling kusuka darinya adalah dia tegas namun tetap lucu. Sepertinya dia juga pekerja keras. Hanya saja dia tidak bisa mendengar dan bisu?

Deru angin yang semakin kencang membuyarkan lamunanku, senja yang indah perlahan mulai lenyap terbawa ombak yang kian membesar. Aku segera bergegas dari tempat itu dan pulang..

###

Bahasa tubuh. Ya, Sejak saat itu hampir setiap malam aku mempelajari bahasa aneh tersebut, niatnya agar aku bisa lebih mudah berkomunikasi dengan gadis bernama senja itu, namun sudah seminggu ini dia tidak pernah lagi memesan nasi kotak dariku, entah apa yang terjadi hingga aku memutuskan datang ke rumahnya. Awalnya aku berpikir dia sudah pindah karena rumahnya tampak sepi tak berpenghuni, tak lama kemudian seorang gadis mengendarai sepeda datang menghampiriku yang sedang berdiri depan gerbang, dan ternyata itu senja. Bermoadal belajar bahasa isyarat selama sepekan akhir ini, tanpa pikir panjang aku langsung mengajaknya ke pantai.

Angin berhembus pelan, sementara ombak masih terlalu kecil, belum cukup kuat dan tinggi untuk menenggelamkan senja yang berada di atasnya. Semburat orange itu masih nampak pekat memenuhi setiap sudut langit barat. Beralaskan milyaran pasir putih, kami duduk bersebelahan dengan jarak yang tidak cukup untuk dua orang disebut sedang berpacaran, kira kira satu meter lebih.


Kubentuk simbol "love" dengan jemariku dan mengarahkan padanya lalu pada langit barat itu. (apa kau suka senja?) tanyaku.

Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali.

(kenapa kau menyukainya??) tanganku membentuk gerakan lain yang hampir sama.

(Aku menyukai senja karena senja adalah diriku. Kita takkan bisa mencintai orang lain dengan baik sebelum kita mencintai diri kita sendiri) Jawabnya dengan bahasa tubuh yang sulit kugambarkan. Namun itu membuatku sedikit lebih sadar. Selama ini aku kurang peduli dengan keadaanku sendiri. Aku fajar maka aku harus bisa mencintai diriku dahulu agar aku dapat mencintai senja dengan baik. Aku tersenyum kecil.

("Sudah seminggu ini kau tidak pernah memesan nasi kotakku, ada apa?") kubentuk gerakan lain yang agak aneh.

("Oh, maaf. Gajiku bulan ini hampir habis, tidak cukup untuk membeli nasi kotakmu yang mahal itu")

"hah, mahal?" aku membatin.

("Kenapa kau tak bilang padaku? Aku bisa memberimu gratis.")

("Tapi kan kau sudah tau namaku?") Jawabnya dengan raut wajah sedih.

"Hahah.." aku tertawa kecil. Benar, dia memang lucu.

Kami berdua terus bercakap, ya, tak ada kata yang terucap pada nada, tetap sunyi meski sebenarnya seru. Hanya deru angin serta gempuran ombak pada deretan karang yang kudengar, sesekali terdengar tawa tawa kecil di antara kami

Ya Tuhan, berada di dekatnya benar benar indah. Sama seperti senja di langit, ia cantik dan mempesona, tidak pula bersuara, namun mampu menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan yang luar biasa. Hari ini adalah hari di mana aku dapat menatap dua senja sekaligus. Sekali lagi, aku sangat bahagia.

Sejak saat itu kami sering bertemu di pantai, duau atau tiga kali seminggu sekedar untuk menatap keindahan senja. Hingga tak terasa genap satu tahun aku mengenalnya, aku benar benar jatuh cinta padanya. Tak perduli lagi dengan cacat yang ia derita, bagiku ia sempurna dan aku bahagia setiap kali ada di dekatnya. Aku berniat mengajak gadis itu ke rumah, aku ingin memperkenalkannya secara langsung dengan kedua orang tuaku, namun aku sempat khawatir mereka tidak akan suka karena sebenarnya ia cacat. Ah. Tak ada cara lain. Kuberanikan diri berbicara pada kedua orangtuaku, kukatakan apa adanya dan.. aku tak percaya pada akhirnya mereka akan mengatakan "Ya".

"Ajaklah kemari nak, kami ingin melihatnya" Celetuk ayahku.

"Ya, ibuk juga penasaran, dia pasti cantik." sambung ibuk.

Aku hanya tersenyum. Mereka bilang akan menyiapkan beberapa tulisan agar lebih mudah berkomunikasi dengan senja.

###

Hari yang ditunggu tiba, setelah selesai berjualan aku langsung menjemput senja ke rumahnya, aku tidak mengatakan kalau aku akan mengajaknya menemui orang tuaku.

Dari luar jendela nampak ibuk dan bapak sudah duduk di hadapan meja, dengan sebuah buku berukuran sedang. Ia sempat menolak saat kuajak masuk ke dalam, namun aku berhasil meyakinkannya jika semuanya akan baik baik saja.

"Wah pak, dia cantik sekali.." ucap ibuk sambil mencubit tangan bapak.

"hahah, iya.. Cantik sekali buk.." balas bapak sambil mencubit balik tangan ibuk.

Aku dan senja sempat tertawa kecil melihat tingkah orang tuaku yang lucu, sepertinya mereka senang.

Sepersekian detik kemudian suasana berubah menjadi hening. Kami berempat duduk saling berhadapan. Kemudian mereka mulai membuka buku itu satu persatu..


"hai, kamu cantik, siapa namamu" lembar pertama.

"anak kami sering bercerita tentang kamu" lembar dua.

"katanya kamu pintar dan rajin?" lembar ketiga.!

"oh iya, anak kami masih jomblo" lembar keempat.

"dia juga tampan dan cocok denganmu" lembar kelima.

Sambil tertawa kecil mereka terus menggeser dari halaman satu ke halaman berikutnya.

Aku benar benar tidak habis berpikir kenapa mereka menulis seperti itu, aku hanya terdiam sambil tersenyum malu. Sesekali aku dan senja saling bertatapan dan tertawa karena melihat tulisan tulisan orang tuaku yang aneh, hingga sampai pada halaman terakhir, tiba tiba suasana kembali hening, bahkan pergerakan waktu dapat kudengar dengan jelas perdetiknya.

"Jadi apa kamu mau menikah dengannya?" halaman terakhir.

Sontak hal itu membuatku kaget.

"Aduh, ibuk bapak malu malu maluin aja.." kataku memecah keheningan. Mereka hanya tertawa kecil dan terus menatap ke arah senja, seolah sedang menantikan sebuah jawaban.

"Ya, aku mau.."

Tiba tiba suara yang begitu asing terdengar, dan kembali membuat suasana hening. Kami semua terdiam beberapa detik, dan aku, aku benar benar kaget dan tidak percaya.

"Hey, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu bisa ngomong?" tanyaku kesal.

"kamu juga tidak bilang kalau kamu bisa ngomong" jawabnya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku.

"kan aku jualan nasi, seharusnya kau tau" jelasku..

"memangnya jualan nasi harus bisa ngomong?" jawabnya dengan santai.

Ibuk dan bapak menatapku sambil menganggukkan kepala. Kemudian kami tertawa bersama..

###

Waktu terus berjalan, kini aku dan senja sudah tunangan. Janji untuk setia sehidup semati saling kami ikrarkan. Di sebuah sore yang indah, aku mengajaknya ke pantai untuk menatap senja. Saat itu senja benar benar menampakkan keindahannya yang luar biasa, jingganya membentuk aurora yang begitu lembut dipandang mata. Angin berhembus dengan pelannya, seolah ikut merasakan kedamaian yang ada. Di sisi lain mentari rela menahan beratnya hari, demi senja yang lebih lama.

"Hey, sepertinya senja kali ini dan seterusnya tidak akan sehening senja senja sebelumnya.." kataku memulai percakapan.

"ya, sepertinya.." jawabnya sambil tersenyum tipis ke arahku.

"Tapi bagaimana kau mengerti bahasa tubuh, selama ini kita menggunakannya, dan ternyata kau bisa bicara?"

"Aku mempelajarinya untuk kakakku, perempuan yang kau lihat bersamaku waktu kamu mengantar nasi, dia tidak bisa berbicara setelah kecelakaan yang menimpanya." jelasnya dengan nada memelas..

"Aku turut sedih mendengarnya. Semoga kakakmu terus diberi kekuatan.."

"Tapi senja tetaplah senja, ia mampu membawa kedamaian dan pada dirimu, kutemukan bahagia" aku mencoba menggoda dan menghiburnya.

"Kau tau, aku merasa sepertinya kaulah alasan aku diciptakan.." ucapnya dengan nada pelan.

"senja tak akan pernah ada tanpa fajar, karena fajar satu satunya jalan menuju senja" terusnya..

"Kau juga harus tau fajar, Ia takkan pernah ada tanpa senja, karena senja satu satunya jalan mentari mengulang fajar berikutnya." balasku sambil menatapnya dalam.

Tiba tiba air mata membasahi kedua pipinya, bersamaan dengan ombak yang perlahan mulai menenggelamkan keindahan senja, sementara kegelapan mulai merambat menguasai seluruh penjuru atap bumi pertiwi.

Aku tidak menyangka kami bisa saling jatuh cinta, menjalaninya dalam diam tanpa suara. satu tahun tidaklah cepat, meski nyatanya kurasakan satu tahun bersamanya terasa lebih cepat. Ya, mungkin itu bukti kekuatan cinta yang luar biasa, ia mampu memahami segala bahasa, bahkan ketika diam dan tidak ada kata yang bisa terucap, cinta mampu memahaminya dengan baik.

Keesokan harinya seperti biasa aku bermaksud mengantarkan nasi kotak ke toko bunga tempat senja bekerja. Namun kali ini ada bebera pembeli yang saat itu harus kulayani sehingga membuatku sedikit terlambat.

Sekitar pukul 08:15WIB aku sampai di toko tersebut.

"Permisi mbak."

"Ya, ada yang bisa saya bantu mas?" jawab seorang penjaga toko.

"Maaf, saya mencari senja? Di mana ya mbak?"

"oh, mbak senja baru saja keluar membeli nasi untuk sarapan" jawab si penjaga sambil mengarahkan jari telunjuknya keluar toko.

"oh begitu ya mbak, terima kasih."

Benar dugaanku. Senja pasti keluar untuk membeli makanan sendiri karena aku telat.

Dari depan toko kuedarkan pandangan ke sekeliling dan benar, dari kejauhan nampak senja baru saja membeli makanan di seberang jalan raya dan hendak menyeberang untuk kembali ke toko.

Sesaat setelah melangkahkan kakinya, tiba tiba...

"Braakkk..!"
sebuah truk datang dari arah kanannya dan menghempas seluruh tubuhnya. Aku yang saat itu berada cukup jauh darinya tidak sanggup berbuat apa apa.. Ya tuhan kenapa ini terjadi? Tiba tiba langit menjadi gelap dan menitihkan hujan seolah alam tau apa yang sedang menimpa senja saat ini. Aku segera berlari ke arah jasadnya menerobos beberapa orang yang sudah lebih dulu mengerumuninya.Pukul 17:00WIB..

Seusai pemakaman aku memutuskan pergi ke pantai, berharap aku akan mendapati senjaku kembali. Kutatap setiap sudut langit barat, kupastikan tak ada yang terlewat. Namun mendung sejak hujan pagi tadi belum juga memudar, sama seperti kesedihan yang sedang kurasakan. Aku benar benar tak menyangka semua akan belalu begitu cepat. Kutatap kembali langit, tak ada senja kudapati kali ini, hanya awan kelam penuh kesedihan serta deretan ombak yang saling berkejaran.

Sekarang aku sadar, Tuhan memang menciptakan sesuatu secara berpasang pasang, namun sesuatu yang berpasangan itu bukan berarti bisa bersama, seperti siang dan malam yang tak akan bisa menyatu, demikian pula fajar dan senja, satu pasangan yang saling berbeda, berbeda tempat juga waktu, sesuatu yang tidak bisa disatukan, sesuatu yang takkan pernah muncul bersamaan.



TAMAT


Note : Cerpen ini terinspirasi dari sebuah film berjudul "Hear Me" (judul agak lupa)

Tags : Cerpen cinta, cerpen cinta sedih, cerpen remaja, cerpen perpisahan

Rabu, 25 Mei 2016

Cerpen Cinta | KARMA

Cerpen Cinta, KARMA

Entah sudah berapa lama Rita duduk di kursi beranda rumahnya itu, yang jelas ia sendiri. Air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya, seperti ada penyesalan hebat yang sedang dirasakannya.


###

"Eh rit, tuh dari tadi karim terus menanyakan keberadaanmu," kata Riska menghampiri Rita yang sedang menunggu dosen makulnya.

"Ah, biarin aja" jawab rita singkat.

Di kampusnya, Rita dikenal sebagai seorang yang pendiam dan kurang terbuka dengan teman temannya. Secara fisik ia lumayan cantik, berkulit sawo matang dengan rambut panjang dan lurus. Beberapa teman laki laki sekampusnya pernah jatuh cinta padanya, namun ia selalu bersikap cuek terhadap mereka hingga pada akhirnya mereka menyerah satu persatu, kecuali, Karim. Ya, meski seringkali dipandang sebelah mata oleh Rita, pria itu terus berusaha mendekatinya.


"Rit Rita, boleh saya antar kamu pulang?" ajak karim sambil mematikan mesin motornya di samping Rita. Namun rita hanya diam dan terus melanjutkan langkah kakinya meninggalkan karim. Hal biasa bagi Karim, ia hanya tersenyum memandang Rita yang berlalu tanpa suara meninggalkannya.

Hari berganti malam. Suasana yang cukup sepi untuk ukuran rumah Rita yang tak terlalu besar. Ia tinggal bersama ibunya seorang. Dua kakaknya sudah lama menikah dan tinggal di rumah masing masing.


"Tit tit tit.." Tiba tiba ponselnya berkedip. Sebuah pesan menyelinap masuk ke dalamnya.

"Hei rita, selamat malam... Lagi apa nih ?"

Lagi lagi Rita cuek, tak ada balasan apapun. Begitulah pesan yang dikirim oleh Karim kepada Rita, pesan yang selalu menderingkan handphonenya setiap malam, pesan yang selalu membuatnya risih setiap ia akan tidur, namun tak pernah sekalipun Rita membalasnya. Tak pernah tau mengapa Rita begitu sulit menerima cinta Karim. Padahal Karim termasuk pria yang cukup tampan dan setia, bahkan beberapa teman Rita juga pernah menaksirnya.

Mentari kembali menampakkan sinarnya. Pagi itu nampak rita sedang duduk sendirian menunggu dosennya hadir.


"Rita, ntar sepulang ngampus aku sama temen temen mau mampir ke rumahmu. Ada sesuatu penting yang harus kamu ketahui," Kata Riska yang tiba tiba ada di samping Rita.

"Oh, iya silahkan Ris," jawabnya singkat.

Rita mendapat kabar bahwa karim sedang sakit. Penyakit yang sudah lama disembunyikannya, termasuk dari kedua orang tuanya itu sekarang membuat Karim harus terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Semacam tumor, namun karim menolak ketika hendak dioperasi, kecuali.. jika Rita bersedia menemani proses operasinya.

Setelah cukup lama teman temannya membujuk, akhirnya rita bersedia ikut menjenguk Karim. Di sisi lain Karim kembali tak sadarkan diri. Sesekalinya ia menyebut nama Rita. Orang tuanya sempat kebingungan karena mereka tidak mengenal nama rita.


"Permisi mbak, bisa tunjukan kami di mana pasien bernama Muhammad Karim dirawat?" tanya Riska memimpin rombongan.

"Sebentar ya mbak, " jawab seorang receptionist. "Pasien bernama Muhammad Karim ada di ruang mawar. Silakan menuju lantai atas, ruang Mawar ada di urutan pertama sebelah kanan."

"Oh, terimakasih mbak.." Merekapun segera menuju ke ruangan yang disebutkan tadi.

Sesaat kemudian mereka sampai di dalam.


"Permisi buk, gimana kabar karim?" tanya Riska pada ibu Karim yang sudah ada di sana sejak lama.

"Entah nak, ibu tak tau harus berbuat apa." Raut wajahnya terlihat sangat sedih, ditambah dengan bekas air mata yang mengering di kedua pipinya. Sementara ayah karim hanya duduk diam tanpa sepatah kata, seoalah ia telah pasrah dan merelakan putranya itu pergi.

"Rita, apa kalian ada yang bernama Rita?" pekik si ibu, ia teringat jika tadi anaknya sempat menyebut sebut nama itu.

"Tadi Karim sempat memanggil panggil nama rita," terus si ibu sambil menatap Karim yang masih tak sadarkan diri.

Rita hanya diam, seperti sedang menyembunyikan diri. Namun tidak dengan teman temannya, mereka membujuk Rita untuk melakukan sesuatu, berharap keajaiban terjadi di antara mereka.


"Rit, ayolah, sekali ini saja, " pinta teman temannya.

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Rita melangkahkan kakinya, mendekat dan memegang tangan kanan Karim.


"Karim, aku ada di sini," ucap Rita lirih. Sebuah kata yang sebenarnya tak pernah ingin ia katakan kepada Karim.

Benar saja, sebuah keajaiban kecil datang. Karim kembali siuman setelah hampir seharian tak sadarkan diri. Mereka yang ada dalam ruangan itu mulai mengukir senyum di wajahnya, tak terkecuali kedua orang tua Karim.


"Rita, akhirnya kau datang," ucap Karim tiba tiba. Ia berharap apa yang sedang menimpanya akan membuat hati Rita luluh dan mau mengakui cintanya.

"Ya, aku di sini untukmu." lagi lagi Rita mengeluarkan kata kata yang sebenarnya tak ia harapkan terucap.

"Rita, seandainya aku sembuh, apa kau bersedia menjadi istriku?" ucap Karim dengan nada lemah penuh harap.

Sebuah pertanyaan yang sebernarnya mudah untuk Rita menjawab tidak. Namun keadaan saat itu sempat membuat Rita bingung. Sebagian jiwanya mengiyakan dan sebagian lain menolak. Ia terdiam sejenak. Semua yang ada di sana ikut menantikan jawaban darinya, terlebih Karim.

"Karim...," Seketika suasana berubah menjadi hening.

"maaf, aku tetap tidak bisa," Rita memantapkan diri.

Sungguh jawaban yang tak terduga. Entah, apa sebenarnya yang membuat Rita begitu kerasnya menolak cinta Karim yang teramat besar itu. Bahkan untuk keadaan yang seperti itu, Rita masih saja tidak mau menerima. Sekedar menjawab 'iya' demi kesembuhan Karimpun ia tidak bisa. Ia tidak bisa melawan kejujuran dirinya lagi seperti pada dua kalimat sebelumnya

Sesaat kemudian, suasana hening tergantikan dengan tangis haru. Karim benar benar telah pergi untuk selamanya. Teman temanya menangis, ibunya memeluk jasad Karim, putra yang sangat ia cintainya. Di sisi lain Rita justru pergi meninggalkan mereka.


###

Sudah hampir seharian, matanya belum juga berhenti mengeluarkan air mata. Terlebih keadaanya yang sendiri membuat ia semakin sedih dan tak tau harus berkeluh kesah kepada siapa. Ibunya yang hanya seorang telah lama meninggal.


"Karim, aku sangat merindukanmu," ucapanya terpecah pecah oleh suara tangis.

Kemudian Rita berdiri dari kursi itu dan berlalu pergi menuju ke sebuah tempat pemakaman. Bukan ibu atau ayahnya, namun makam Karim. Ia sadar bahwa semuanya sudah terlambat, namun ia benar benar tak tau harus berbuat apa. Di usianya yang sudah genap 40 tahun, Rita belum juga mendapatkan pasangan hidup. Ia benar benar kesepian. Ia menyesal telah menolak cinta Karim 17 tahun lalu. Ia sadar bahwa apa yang menimpanya sekarang adalah KARMA.

Tags : Cerpen cinta, cerpen sedih, cerpen penyesalan.

Senin, 23 Mei 2016

Mengeluh terus, kapan Bersyukurnya?

Mengeluh terus kapan bersyukurnya? Sebuah pertanyaan untuk kita, terlebih saya merenunginya.

Mengeluh, saya pikir semua orang pernah mengeluh, entah yang kaya atau yang pas pasan, lebih lebih yang kekurangan, dalam hal ini adalah harta dan biasanya yang bersifat duniawi saja.

Mengeluh adalah salah satu bentuk kata kerja, yaitu : mengeluarkan kata kata yang bikin orang lain pingin nimpuk muka lu. Wkwk : D ya, benar saja, admin ndak suka sama orang yang suka mengeluh. Dikit dikit ngeluh, apa apa ngeluh.. Kapan bersyukurnya?

Mengeluh biasanya muncul setelah rasa kecewa atau ketidak puasan seseorang terhadap sesuatu atau keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Makanya jangan terlalu berharap, entar jadinya BAPER ! -_-" tut tut tut..

Eh, tapi si admin pernah ngeluh gak si?? Oo tentu pernah, malah sering. Kebiasaan sehari hari. ( Nah, tu.. Ketauan jugak kan, haha )

Mengapa mengeluh? Jawabannya adalah kurangnya rasa bersyukur. Rasa kecewa atau ketidak puasan terhadap sesuatu tidak akan berujung mengeluh selama kita mampu bersyukur, justru sebaliknya akan membangkitkan semangat kita untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Mengapa kurang bersyukur? Terlalu sering melihat ke atas biasanya akan membuat kita lebih sedikit bersyukur.

Mengeluh karena merasa paling jelek, paling bodoh, mengeluh karena tidak punya uang untuk membeli apa yang diinginkan, atau mengeluh karena masih jomblo, susah dapat pacar, (eh, yang ini mungkin admin bisa bantu, hehe ) atau karena hal lain. Cobalah melihat dari sisi lain, melihat ke arah bawah. Semisal kita mengeluh karena tidak punya uang untuk membeli apa yang kita inginkan, loh masih mending kita, yang lain? Jangankan yang diinginkan, yang dibutuhkan saja kadang susah sekali mendapatkannya.

Melihat ke atas memang perlu, untuk merangsang keinginan kita menjadi lebih baik, namun melihat ke bawah lebih penting agar kita dapat senantiasa bersyukur dan lebih sedikit mengeluh.

Ketika ada orang pandai bersyukur, maka di manapun dan apapun keadaanya ia akan senantiasa bersyukur. sebaliknya, orang yang pandai mengeluh, dia bisa saja tetap mengeluh meski sedang diberi kelebihan.

Mengeluh hanya akan memperumit keadaan, menambah masalah yang ada dan membuat kita semakin gelisah, hingga akhirnya menjadikan kita jiwa yang mudah putus asa. Jadi mulai sekarang mari kita belajar untuk lebih bersyukur dan menghilangkan kebiasaan mengeluh. Jika menghilangkan sulit, minimal dengan menguranginya.


Ketika Anda mengeluh, Anda benar-benar menarik masalah ke dalam hidup Anda.
@T. Harv Eker.


NB : Hanya sebuah uneg uneg. Maaf untuk kekurangan dan kesalahan yang ada.

Jumat, 20 Mei 2016

Cerpen Cinta | Surat Dalam Diary


Assalamu'alaikum..
Heii
Kamu tau siapa aku??
Aku seorang perempuan
Aku tau siapa namamu lengkap dengan tempat dan tanggal lahirmu
Aku tau apa hobimu
Musik dan lagu favoritmu
Makanan kesukaanmu
Dan... Masih banyak lagi yang aku tahu tentang kamu.
Jadi..
Sudah tau siapa aku???
.
.
.
Masih sulit???
Hah, okelah aku kasih tahu

perhatikan baik baik yaa
Aku..
Perempuan
Yang
Diam diam
Suka KAMU !!

S, 01022013

Begitulah surat yang pernah kutulis untuknya, sengaja tak kusertakan nama karena saat itu aku belum berani mengakui bahwa aku suka padanya. Hanya huruf S sebagai inisial nama panggilku, Syifa, Syifa Nur Auliya.

Sudah lama aku menyimpannya, menyisipkannya diantara lembaran diaryku yang hampir penuh. Bentuknya, warnanya, aromanya benar benar masih utuh, sama seperti saat aku baru menulisnya.

Muhammad Hafidz namanya, laki laki yang sudah membuatku jatuh cinta sejak aku duduk dibangku SMA kelas 2. Dia merupakan siswa pindahan dari salah satu SMA berbasis islam di kota Kaliwungu, Kendal. Kota yang terkenal dengan pendidikan Pesantrennya yang mumpuni.

Sejak pertama melihatnya, aku sudah merasakan ada sesuatu pada diriku yang berbeda, sesuatu yang sebelumnya tak pernah kurasa saat berjumpa dengan laki laki manapun. Sesuatu yang oleh banyak orang disebut Cinta. Ya, aku jatuh cinta padanya.

Jam tangan di lengan kiriku menunjukan pukul 15.45WIB. Setelah beberapa saat menunggu sekolahan sepi, kuberanikan diri menyelinap ke dalam salah satu kelas untuk menaruh surat itu di laci meja yang tak lain adalah tempat duduk laki laki itu, berharap esok hari dia melihat dan membacanya.

Tik tok tik tok, kupastikan area sekitar benar benar sepi dan aman. Dengan mantabnya aku melangkah penuh pasti dan..


"Hei hei syifaa, mau apa kamu kesini?"
tanya pak Umar yang tiba tiba ada di belakangku, mengagetkan sekaligus menghentikan langkahku yang baru sempat melewati pintu kelas.

"Allahu akbar!"
bathinku kaget maksimal..

"He he, pak Umar ternyata.."
jawabku sambil nyengir..

"Kok belum pulang pak???"
kusambung sebuah pertanyaan singkat untuk mengalihkan pembicaraan. Belum sempat beliau menjawab aku langsung kabur meninggalkannya. Anehnya aku, sudah tiga kali kepergok masih saja berani menyelinap ke dalam kelas itu. Hehe..

Di sekolahanku murid laki laki dan perempuan dipisah dengan ruang kelas yang berbeda, itu sebabnya aku kesulitan menyampaikan surat ini. Sebenarnya aku bisa menitipkannya pada teman sekelasnya, hanya saja saat itu aku tidak mau usahaku menutupi rasa sukaku pada muhammad yang sudah lama terbongkar, aku tidak mau ada seorang lainpun tahu. Sejak kejadian itu aku memutuskan menyimpannya dalam buku diary ini, hingga suatu hari aku benar benar tak tahan dan ingin sekali rasanya laki laki itu tahu bahwa aku suka padanya.

Pagi itu langit nampak cerah, memantabkan niatku memberikan surat itu langsung padanya karena aku tau hari itu adalah kesempatan terakhirku.

Semua siswa siswi kelas XII telah duduk di kursi masing masing sesuai nomor urut peserta yang telah ditentukan dan siap untuk mengikuti acara pelepasan murid di sekolah. Kalian tau? Laki laki itu, dia duduk tepat di sebelah kananku. Aku benar benar tak menyangka hal ini akan terjadi. Perlahan aku mencoba mengambil surat dari saku rok panjangku, namun naas, belum sempat kuambil tiba tiba laki laki itu menoleh ke arahku, aku kaget dan... Surat itu jatuh ke lantai.


"maaf, boleh tau nama kamu siapa dan dari kelas XII apa??" tanya laki laki itu memulai pembicaraan.

"mmm, aaa a aku syifa nur auliya kelas XII ipa"
jawabku sedikit terbata..

Tiba tiba aku merasa grogi maksimal, degup jantungku terasa lebih keras, Dag dug dag dig dug dag dug dag dig dug.. dan tubuhku sedikit gemetar. Mungkin karena aku belum pernah sedekat ini dengannya, pikirku..


"Surat itu, duh gimana ini?"
batinku mulai resah.

parahnya lagi laki laki itu melihat dan langsung mengambilnya..

"ini punyamu kan?"
ucapnya sambil menyodorkan surat itu padaku.

Aku terdiam sejenak, bingung harus menerimanya atau tidak..

"terima tidak, terima tidak, terima tidak.." aku masih diam berpikir.

"Hei?"
ucap laki laki itu sambil menggerakkan tangannya tepat di hadapan wajahku.

"oh, hehe.. Iya makasih"
jawabku tersipu malu.

Entah bagaimana semua bisa berubah begitu saja dalam waktu yang sangat sekejap, niat dan kemantabanku.. Aku malu seandainya kuberikan surat itu padanya lalu dia membacanya saat itu juga. Kuambil surat itu dari tangannya dan mulai mengatur nafas, menenangkan diri, kembali fokus mengikuti acara pelepasan murid di sekolah kami.

Haah, sekarang surat ini masih utuh dan rapi, kubiarkan surat ini menjadi bagian dari kisah hidup yang pernah kujalani dan kutulis dalam diary ini. Berharap suatu hari cerita tentang laki laki itu dapat kusambung lagi hingga memenuhi seluruh halaman diary ini.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang dan segera tidur karena besok harus berangkat kuliah lebih pagi..



NB : Maaf cerpennya jelek, Wkwk : D